Bukan sekadar cerita romansa kacangan. Ini adalah dekonstruksi bagaimana coretan iseng Pidi Baiq berevolusi menjadi monster box office yang mereset standar kultur pop remaja Indonesia.
Pidi Baiq (Ayah), seniman eksentrik asal Bandung, nggak pernah berencana bikin masterpiece korporat. Dilan lahir secara sporadis lewat blog pribadi dan Twitter. Karakter ini diklaim berdasarkan sosok nyata di Bandung tahun 1990. Gayanya nulis lugas, absurd, tapi jujur. Nggak ada bahasa puitis menye-menye, cuma logika jalanan remaja yang lagi kasmaran.
Penerbit Pastel Books (Mizan Group) mencium potensi ini. Dirilislah novel Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990. Hasilnya? Buku ini meledak. Gombalan Dilan yang out of the box ("Jangan rindu, berat. Biar aku saja") jadi kutipan wajib di seluruh media sosial. Buku ini laku ratusan ribu kopi karena menawarkan antitesis dari karakter cowok sempurna ala novel teenlit pada umumnya.
Saat adaptasi film diumumkan, internet bergejolak. Iqbaal Ramadhan, mantan member boyband CJR, di-cast sebagai Dilan si ketua geng motor. Publik skeptis parah. Netizen menganggap Iqbaal terlalu "klimis" untuk peran rebel. Tapi Pidi Baiq pasang badan, dia tahu apa yang dia mau. Kontroversi ini justru jadi mesin marketing gratis yang masif.
Film dirilis. Disutradarai Fajar Bustomi dan Pidi Baiq, diproduksi Max Pictures. Semua keraguan hancur lebur di hari pertama. Iqbaal membuktikan dia adalah Dilan. Chemistry-nya dengan Vanesha Prescilla (Milea) membius bioskop. Nggak ada CGI lebay, cuma cerita nostalgia SMA yang digarap dengan jujur dan tone warna retro yang ciamik.
Menembus 6.315.664 penonton. Angka ini mutlak, menjadikannya salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa. Mengamankan posisi Dilan sebagai franchise miliaran rupiah dengan sekuel (Dilan 1991, Milea: Suara dari Dilan, dan Ancika) yang terus mendominasi pasar.
Keberhasilan Dilan 1990 adalah bukti bahwa audience muak dengan formula sinetron klise. Mereka butuh sesuatu yang autentik. Pidi Baiq membuktikan bahwa karya yang jujur dan nggak try hard punya ruang masif di industri.
Penjualan jaket jeans belel dan motor custom ala CB100 meroket gila-gilaan pasca film tayang. Kultur visual kembali mundur ke era 90an.
Bahasa baku bin puitis perlahan diganti gaya bahasa semi-baku yang nakal tapi cerdas dalam industri penerbitan dan periklanan remaja.
Satu kalimat yang cukup untuk menghancurkan dominasi film horor di bioskop tahun itu.